DEDAUNAN BERSYAIR
Samar-samar,
sang tinta merajuk ranting untuk
menjadi pucuk pena sang penyair,
berbisiklah ia pada dedaunan
malam
Untuk tetap bersedia menjadi kertas
_Batang pohon mendengar, _
tersenyum sembari menumpahkan
getah
lalu tertadahlah ia dalam imajinasi
kata
Semilir angin berbisik penuh
ketenangan,
sang penyair mengarungi lautan
diksi
Menjaring dan mengemas menjadi
rima
Huruf-huruf menetas rapi di kelas
puisi
Larik-larik cangkang aksara mulai
berpidato
Di antara not bait dan larik-larik
Sebilah tanya kian bergelayut,
_perempuan seribu puisi ... _
Siapakah gerangan dalam baitmu
wahai penyair?
Malampun kian hening,
satu-persatu prahara dalam
dadanya di simpan
Kemudian dikemas dalam selimut
mimpi
Menjadi kisah nibabobo pada
lintasan deru nurani
Hitam warna langit,
tak sesengit bayang hitam
ketakutan
Waktu terus mengitari porosnya
Hingga tiba di gapura fajar,
demi membuka pintu pagi
_Bercandalah mentari bersama
embun
Memoles hari dengan penuh
semangat
Selamat pagi sahabat pemuisi_
*Mimpikah?*
Komentar
Posting Komentar